Sabtu, 23 November 2019

KEUTAMAAN NABI MUHAMMAD SAW ATAS SEMUA MANUSIA

Oleh : Triat Adi Yuwono
        Nabi Muhammad SAW adalah manusia pilihan, dimana tidak ada satupun manusia yang bisa menyaingi kedudukan beliau di sisi Allah dan menyaingi peran beliau dalam kehidupan di dunia ini. Bahkan Michael H. Hart seorang penulis Barat non muslim terkenal, dalam bukunya “100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah” menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia di dunia ini [1] . Beliau memiliki banyak sekali keutamaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusiapun di bumi ini, bahkan bagi seorang Rasulpun selainnya. Diantara sekian banyak keutamaan beliau -yang tidak mungkin dijelaskan satu-persatu disini- adalah:

1. Diutus untuk menjadi Rahmat bagi Semesta Alam
            Nabi-nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW, diutus hanya untuk umatnya saja dan pada saat itu saja, namun Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh manusia, untuk seluruh bangsa, di semua tempat dan di sepanjang zaman sampai hari Kiamat. Allah SWT berfirman dalam QS. Saba [34] Ayat 28:
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui “
Bahkan beliau diutus tidak hanya untuk kebaikan manusia saja, tetapi juga bagi kalangan jin dan makhluk lain sebagai rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Anbiya [21] ayat 107 :
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
           Diutusnya beliau telah merubah manusia dari kegelapan jahiliah menuju kepada cahaya petunjuk yang terang benderang. Beliau lahir di tengah-tengah masyarakat Arab yang hidup di padang pasir, bangsa bodoh, yang tidak pernah ada peradaban maju yang lahir di sana, bangsa yang diremehkan dan tidak dipandang oleh bangsa-bangsa lain. Namun dengan ajaran Islam yang beliau bawa, beliau berhasil menyatukan bangsa yang di sana sering terjadi perang antar suku menjadi bangsa yang bersatu di bawah panji Islam dan kemudian berhasil mengguncangkan dunia. Tidak begitu lama setelah mereka memeluk ajaran yang dibawa Nabi Muhammad, mereka bisa menaklukkan negeri Romawi dan Persia, negeri adi kuasa saat itu yang memiliki tentara yang kuat dan persenjataan yang lengkap. Tidak ada satu bangsapun saat itu yang bermimpi mampu menaklukkannya, namun bangsa Arab, bangsa padang pasir yang telah menerima ajaran Nabi Muhammad mampu menaklukkannya. Maka jadilah bangsa Arab menjadi negara adi kuasa, bangsa yang disegani dan menjadi pusat peradaban dunia. Maka menyebarlah ajaran Islam ke pelosok-pelosok penjuru dunia menembus padang pasir, melewati lembah, menerobos gunung dan melintasi lautan sampai ke sudut-sudut kota dan desa. Ajaran Islam yang dibawa nabi Muhammad bisa diterima oleh manusia di seluruh penjuru dunia dan memberikan fungsinya sebagai rahmat bagi semesta alam.

2. Nabi terakhir yang ajarannya sempurna
        Nabi-nabi terdahulu begitu ada yang wafat, maka Allah mengutus kembali nabi selanjutnya, begitu seterusnya hingga Nabi Isa A.S. Begitu Nabi Isa A.S diangkat oleh Allah SWT, tidak ada Nabi lagi diturunkan sampai ratusan tahun (sekitar 600 tahun) hingga kemudian Allah SWT berkehendak menutup kenabian dengan diutusnya Nabi Terakhir yang membawa syari’at-Nya. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah [5] ayat 19:
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengutusan) rasul-rasul”
Nabi terakhir yang membawa syari’at itu adalah Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman dalam QS. Al Ahzab ayat 40 :
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.”
        Tidak adanya Nabi lagi setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW, menyebabkan tidak ada manusia yang akan membawa syari’at yang baru lagi. Maka Allah SWT menyempurnakan syari’at yang dibawa Nabi Muhammad agar senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah [5]:3
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu “
Kesempurnaan syari’at Islam ini menjadikan ajarannya begitu lengkap mencakup seluruh aspek kehidupan, baik itu masalah ekonomi, politik, pendidikan, sosial, budaya, pertahanan keamanan dan sebagainya. Islam mengatur masalah pribadi sampai mengurus negeri. Mengatur masalah buang air sampai mengurus tanah air. Semuanya tidak ada satupun yang luput dari ajaran Islam.

3. Setiap tingkah laku beliau adalah teladan
        Risalah islam yang telah diturunkan oleh Allah SWT secara sempurna yang menyangkut seluruh aspek kehidupan, tentulah membutuhkan role model yang akan menjadi panutan kita dalam mengamalkan ajaran-ajaran Tuhan agar bisa hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW sendiri sebagai role model itu. Beliau adalah teladan bagi manusia dalam menjalani kehidupan ini. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Ahzab [33]: 21
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh”
Bahkan Allah SWT, Tuhan Semesta Alam memuji akhlak Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Qalam [68] : 4
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”
Maka seluruh umat Islam menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupannya. Tidak ada satu manusiapun di dunia ini yang sebagaimana Nabi Muhammad SAW, yang setiap perkataannya, tindakannya, diamnya dan aktivitas kehidupannya dijadikan rujukan dan pedoman kehidupan, diceritakan dari mulut ke mulut, ditulis dari kitab ke kitab, diturunkan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Milyaran manusia meneladani beliau bagaimana kehidupan pribadinya mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, meneladani beliau dalam membina keluarganya, meneladani bagaimana beliau bermasyarakat, termasuk pula meneladani beliau bagaimana dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Beliau diteladani dari segala sisi. Jutaan skripsi, tesis, disertasi dan kitab-kitab lahir dari mengkaji kehidupan beliau, dan tulisan-tulisan tentangnya akan terus mengalir seperti mata air yang tidak pernah berhenti.

4. Memiliki mukjizat Al-Qur’an
        Para Rasul diberikan mukjizat oleh Allah SWT sebagai hujjah bagi ummatnya masing-masing untuk menunjukkan kebenaran ajaran yang mereka bawa. Termasuk pula Nabi Muhammad SAW, beliau memiliki puluhan mukjizat yang Allah SWT karuniakan kepadanya. Diantara mukjizat terbesar yang membedakan dengan mukjizat-mukjizat yang lain adalah Al-Qur’an. Kalau mukjizat-mukjizat Nabi-nabi terdahulu berlaku pada waktu itu saja, dan hari ini kita sudah tidak bisa menyaksikannya lagi. Namun berbeda dengan Al-Qur’an, Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang sampai hari ini kita masih bisa menyaksikan kemukjizatannya dan kemukjizatan itu akan terus bisa disaksikan oleh generasi yang akan datang sampai menjelang hari akhir. Diantara kemukjizatan al-Qur’an adalah kitabnya yang akan senantiasa terjaga keasliannya. Allah SWT sendirilah yang menjamin keasliannya. Tidak ada satupun buku ataupun kitab di muka bumi ini yang dijamin akan dijaga oleh Tuhan, kecuali Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS. Al hijr [15] ayat 9 :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Maka sampai hari ini kita bisa menyaksikan bukti kemukjizatan Al-Qur’an dengan melihat banyaknya jumlah para penghafal Al-qur’an, yang menjaga ayat demi ayat dari Kitab suci itu. Jutaan kaum Muslimin hafal kata demi kata, bahkan sampai titik dan komanya. Andai saja seluruh mushaf yang ada di muka bumi ini dibakar, maka Al-Qur’an tidak akan hilang karean ia tersimpan dalam pikiran dan hati kaum Muslimin. Ini adalah bagian dari realisasi janji Allah bahwa Dia akan menjaganya, yaitu dengan menjadikan Al-qur’an mudah untuk dihafal.
       Mukjizat yang lain dari Al-Qur’an adalah bahwa apa-apa yang terkandung di dalamnya adalah kebenaran. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa [4] ayat 174:
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an)".
        Al-Qur’an yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah kitab yang senantiasa up to date, kitab yang senantiasa bisa menjawab tantangan zaman. Ketika Al-Qur’an diturunkan, masyarakat Arab saat itu adalah masyarakat yang ahli syair, maka Al-Qur’an turun dengan Bahasa yang begitu indah melebihi sya’ir, sehingga banyak orang masuk Islam karena mendengarkan Al-Qur’an. Saat ini masyarakat kita “terhipnotis” dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka Al-qur’an pun bisa menjawab tantangan zaman saat ini, banyak kandungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah ada di dalam Al-qur’an. Bahkan banyak dari ilmu pengetahuan yang baru ditemukan di akhir abad ini, ternyata sudah dicantumkan dalam Al-Qur’an 1400 tahun lalu. Kita telah menyaksikan banyak kalangan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang membuktikan kebenaran kandungan Al-Qur’an, dan banyak yang menjadi Muslim karenanya. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin majunya ilmu pengetahuan serta teknologi, maka akan semakin banyak kita saksikan kebenaran dari Al-qur’an itu.
****
        Itulah beberapa keutamaan Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan seluruh manusia lain, tidak ada manusia yang sanggup menandingi keutamaan beliau di dunia maupun di akhirat. Beliau adalah manusia pilihan, kekasih Allah, manusia terbesar, dan pemimpin terbesar. Ir Soekarno pernah berkata :
“Kita sebagai umat Islam harus, harus menganggap Muhammad itu sebagai pemimpin besar yang terbesar, bahkan harus kita mengatakan, tidak ada pemimpin yang lebih besar dari pada Muhammad SAW,” [2]
Marilah kita berupaya untuk menjadikan beliau teladan dalam menjalani kehidupan, mudah-mudahan kelak kita beroleh syafa’atnya. Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabatnya....
---------------------------
[1] Michael H. Hart. 1992. 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia. Noura Books: Jakarta, hal :11

Kamis, 21 Juni 2018

MERPATI POS, SALAH SATU KEAJAIBAN PENCIPTAAN


  Oleh : Triat Adi Yuwono

        Merpati pos termasuk hewan yang cukup pintar dan memiliki naluri alamiah yang bisa membuatnya kembali ke sarang meskipun sudah pergi lama dan sangat jauh [1]. Burung merpati pos mampu menempuh jarak 1.000 km tanpa henti dengan kecepatan 60 km/jam. Merpati merupakan agensi berita pertama dalam sejarah yang digunakan untuk menyampaikan surat dan berita. Ia dahulu banyak digunakan oleh bangsa Yunani, Romawi dan Arab. Sebagian negara Eropa pun menggunakan merpati pos untuk menyampaikan surat. Belanda misalnya, mereka menggunakan merpati pos untuk menyampaikan berbagai instruksi dari Belanda ke Pulau Sumatera di Indonesia yang berjarak sekitar 17.000 km [2]. 
        Bagaimana burung merpati bisa terbang menjelajahi jarak yang sangat jauh dan menyampaikan surat itu tanpa tersesat ? Sebagian ilmuwan berhipotesis bahwa rambu-rambu bumi telah terpatri dalam ingatan merpati pos dan menjadikannya sebagai penunjuk jalan. Lalu ada ilmuwan lain yang menguji hipotesis ini dengan membawa seekor merpati pos dan menutup matanya, kemudian melepaskannya agar terbang ke tujuan. Ternyata burung itu berhasil sampai di tujuannya tanpa tersesat. Hipotesis inipun gagal.
Hipotesis kedua, burung merpati menggunakan matahari untuk memproyeksikan suatu sudut yang menunjukkannya kepada suatu tujuan. Namun ternyata merpati bisa terbang pada malam hari dan sampai di tujuannya. Maka, hipotesis inipun akhirnya terbantahkan.
        Hipotesis ketiga, terdapat radar di dalam otak merpati yang berfungsi sebagai penunjuk jalan. Untuk mengujinya, para Ilmuwanpun kemudian memasang perangkat elektronik berukuran kecil yang memancarkan gelombang listrik untuk mengacaukan sistem radar pada otak merpati. Namun ternyata merpati masih bisa sampai di tujuannya dengan benar.
        Hipotesis keempat, merpati mendapatkan penunjuk jalan melalui bidang magnetik yang melingkupi bumi. Ilmuwanpun kemudian memasang beberapa keping besi magnetik di kepala merpati yang memancarkan gelombang magnetik dengan arah berbeda-beda sehingga diharapkan dapat mengacaukan medan magnetik bumi. Namun ternyata merpati mampu sampai di tempat tujuannya juga.
        Sampai saat ini belum ada penjelasan bagaimana merpati pos bisa menempuh perjalanan puluhan ribu mil di atas samudra, pegunungan, padang pasir dan lembah-lembah hingga sampai pada tujuannya tanpa tersesat. Merpati pos juga bisa kembali ke tempat asalnya tanpa tersesat setelah melaksanakan tugasnya yang melewati perjalanan ribuan mil. Bagaimana merpati pos bisa melakukannya? Mungkinkah ini hanya kebetulan saja? Ataukah ada yang mengarahkannya? Tentu ada yang mengarahkan dan memberi petujuk kepada burung merpati pos yang tidak membawa perlengkapan navigasi sehingga ia bisa sampai kepada tujuannya. Tuhan-lah yang telah mengarahkan, memberikan petunjuk dan menciptakan merpati pos dengan system bawaan yang kompleks sehingga ia mampu melaksanakan tugas dengan baik.
------------ 
[1] Adam Hamid, dkk. 2015. Jurnal: Pola Tingkah Laku Makan Burung Merpati (Columba Livia) Jantan yang Dipelihara secara Intensif. Universitas Negeri Gorontalo: Gorontalo
[2] Nadiah Thayyarah. 2014. Buku Pintar Sains dalam al-Qur’an. Penerbit Zaman: Jakarta, Hal:638

Kamis, 27 Oktober 2016

SARANA MENCARI KONSEP TUHAN




Oleh : Triat Adi Yuwono
Tuhan yang menciptakan segala sesuatu tentulah merupakan ‘sesuatu’ di atas segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh manusia karena kemutlakannya. Manusia sebagai makhluk tidak akan mungkin dapat menjangkau sang penciptanya. Sebagaimana komputer sebagai hasil buatan yang tidak mungkin menjangkau manusia yang membuatnya.
Manusia yang fana, tidak mungkin menjangkau Tuhan yang mutlak. Tidak akan ada akal atau alat dengan teknologi secangih apapun yang dapat mengungkap, seperti apakah hakikat Tuhan itu? Karena kemutlakan dan ketidak terjangkauannya itulah, maka kita hanya dapat melakukan pendekatan terhadap ‘konsep Tuhan’.
Cara yang paling logis untuk mencoba mendefinisikan ‘konsep Tuhan’ tentu dengan menggunakan bekal paling awal yang telah diberikan-Nya kepada setiap manusia, yaitu berupa RASA (perasaan) dan RASIO (akal). Namun karena adanya keterbatasan rasa dan rasio, maka kita membutuhkan petunjuk yang diturunkan oleh Dia sendiri ke dunia yang berupa wahyu (firman-firman Tuhan).
1.   Rasa (Hati)
Setiap manusia menginginkan kebahagiaan, yaitu ketenangan hati. Tidak ada manusia yang menginginkan hatinya gelisah, tidak tenang, tidak bahagia. Maka manusia secara naluriah akan mencari sesuatu yang membuat hatinya bahagia dan tenang.
Hati yang bersih yang tidak terkotori oleh hawa nafsu akan  mengakui akan keberadaan suatu Dzat yang menciptakan, mengatur dan menguasai alam raya.  Dia akan mengakui adanya Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Tuhan.
Dalam kondisi normal kadang kesadaran akan adanya Tuhan  ini tertutup. Namun dalam kondisi bahaya, takut dan mencekam, manusia secara naluri akan memohon kepada sesuatu yang lebih kuat atas dirinya, meminta kepada sesuatu yang berkuasa atas alam untuk bisa menolongnya. Dia akan berdoa dan berlindung kepada Tuhan.
Dengan meyakini adanya Tuhan, manusia akan memiliki perasaan tenang. Namun manusia tidak puas hanya dengan meyakini tentang keberadaan Tuhan saja. Ia ingin tahu bagaimana Tuhan itu ? Ia ingin tahu bagaimana karakter Tuhan, agar dia tidak meyakini tuhan yang salah karena faktanya manusia menyembah tuhan yang berbeda-beda. Dengan mengetahui Tuhan yang benar maka dia bisa memperoleh kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan atau ketenangan yang semu. Untuk mengetahui karakter Tuhan, maka manusia mencari bagaimana konsep Tuhan dengan menggunakan akalnya.
2.   Rasio (Akal)
Perasaan kita akan tenang ketika apa yang kita yakini benar. Untuk mencapai kebenaran itu kita bisa menggunakan akal kita. Namun kita tetap membutuhkan wahyu dari Tuhan untuk menguatkan kebenaran yang dicapai akal.
Sesuatu, apapun itu, harus punya karakter atau ciri khas, supaya mudah dikenali dan tidak tertukar dengan yang lain. Termasuk pula Tuhan. Tuhan juga pasti memiliki karakter atau ciri khas yang menyebabkan Dia ‘layak’ sebagai Tuhan. Jangan sampai yang bukan Tuhan justeru salah dijadikan sebagai Tuhan. Lantas, seperti apakah karakter Tuhan yang bisa diterima oleh logika, objektif dan tentu saja harus sesuai dengan firman-Nya (wahyu) ?
a.   Absolute
Karakter Tuhan yang pertama adalah ABSOLUTE (mutlak).
‘Sesuatu’  yang dikatakan sebagai Tuhan tentu haruslah paling hebat, paling kuat, paling berkuasa di atas segalanya dan tidak tergantung atau dipengaruhi oleh ‘sesuatu’ yang lain.
Buat apa jadi tuhan kalau ia punya kekuasaan atau kekuatan yang masih tertandingi. Tanyakanlah kepada setiap orang yang beragama, pasti mereka sepakat bahwa tuhan mereka haruslah yang paling hebat, paling kuat, paling berkuasa di atas segalanya. Adakah yang ingin tuhannya lemah, mudah kalah, tidak memiliki kuasa? Tentu saja tidak.
b.   Distinct
Karakter Tuhan yang kedua adalah DISTINCT (tidak ada yang menyamai).
Jika tuhan itu haruslah yang paling hebat, paling kuat dan paling segalanya, pastilah Dia tidak ada yang menyamai, Dia berbeda dengan yang lain, dalam segala hal. Kalau masih ada yang menyamai berarti ia bukan yang paling hebat, bukan yang paling kuat, apalagi mutlak (maha segalanya). Maka sesuatu yang masih ada yang menyamai, ia tidak layak dijadikan sebagai Tuhan.
c.    Unique
Tuhan yang memiliki karakter DISTINCT, tidak ada yang menyamai, berbeda dengan yang lainnya, maka pastilah jumlahnya hanya ada satu. Maka karakter Tuhan selanjutnya adalah UNIQUE, yang berarti hanya ada satu-satunya, esa, tunggal.
Kepercayaan tentang adanya satu Tuhan (monoteisme) merupakan awal kepercayaan manusia. Kepercayaan terhadap satu Tuhan Tertinggi masih terlihat dalam agama suku-suku pribumi Afrika.[1]
Ketiga karakter tuhan ini (Absolute, Distinct dan Unique) harus dimiliki semuanya. Tidak mungkin hanya ada salah satu atau dua karakter saja. Inilah konsep Tuhan yang bisa dijangkau oleh akal. Akal manusia tidak bisa menjangkau melebihi ini. Manusia tidak bisa mengetahui hakikat siapa Tuhannya. Maka manusia perlu mengetahui siapa Dia melalui wahyu (firman-firman Tuhan)  yang tertuang dalam kitab suci.
3.   Wahyu
Tuhan yang telah menciptakan manusia, tentu Dia tidak akan membiarkannya begitu saja tinggal di dunia. Ia akan membimbing manusia agar tidak tersesat, maka Dia menurunkan petunjuk-Nya yang berupa firman-firman Tuhan yang disebut wahyu. Kumpulan firman Tuhan (wahyu) inilah yang kemudian menjadi Kitab Suci sebagai pedoman hidup para pemeluk agama.
Bekal rasa dan rasio manusia tidak terjamin ‘keakuratannya’ untuk mencapai konsep ketuhanan yang paling benar. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan rasa dan rasio yang hanya menafsirkan sesuatu berdasarkan pengalaman empirisnya. Ketika sesuatu itu berada di luar jangkauan pengalaman empirisnya, maka rasa dan rasio tidak dapat menjangkaunya.
Contoh sederhananya adalah, ketika seseorang diminta untuk melukis atau menggambarkan seorang gadis yang paling cantik, maka ia akan menggambarkan ‘unsur’ gadis itu berdasarkan apa yang pernah dilihat, dialami atau diketahuinya.
-           Rambutnya : Ikal, lurus, pendek atau panjang tergerai. Warnanya hitam legam atau pirang.
-           Hidungnya : mancung, bangir atau agak pesek.
-           Matanya : tajam, hitam atau biru.
-           Dan lain sebagainya.
Bukankah semua ciri tersebut pernah dilihat dan diketahuinya ? Seandainya permintaannya diganti dengan melukis atau menggambarkan gadis cantik yang belum pernah dilihat, tentu dia tidak akan mampu melukisnya.
Sama halnya ketika kita diminta untuk mengetahui hakikat Tuhan, kita tidak akan mampu, karena Tuhan adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan  manusia. Manusia hanya dapat ‘mendekatinya’. Namun pendekatan yang dilakukan manusia dengan menggunakan rasa dan rasio masih terbuka kesalahan. Sebab, masih berorientasi subjek (subjektif). Agar proses pendekatan konsep Tuhan tidak salah, maka harus dibimbing oleh petunjuk dari Tuhan itu sendiri yang berupa wahyu dalam kitab suci.
Diagramnya sebagai berikut :
Tuhan yang telah menciptakan rasa dan rasio untuk manusia, Tuhan pulalah yang telah menurunkan wahyu untuk pedoman hidup manusia, maka konsep Tuhan yang diperoleh rasa, rasio dan wahyu akan sama, saling mendukung dan menguatkan. Karena ketiganya berasal dari Tuhan yang sama. Apabila ada ketidak cocokan antara rasa, rasio dan wahyu maka itu pasti bukan berasal dari Tuhan.



[1] Karen Armstrong. 2014.Sejarah Tuhan.Mizan Media Utama: Bandung, hal:27

Rabu, 26 Oktober 2016

MEMBANTAH TEORI EVOLUSI




Oleh : Triat Adi Yuwono
Pada tahun 1859 Charles Darwin menerbitkan buku Origin of Spesies. Dalam bukunya Darwin menyatakan bahwa makhluk hidup yang ada berasal dari satu keturunan yang berubah secara lambat dan kemudian menjadi spesies yang berbeda-beda:
“Analogi membawa saya satu langkah lebih maju, yaitu pada keyakinan bahwa semua hewan dan tanaman diturunkan dari satu prototipe”[1].

Ia berpendapat bahwa keragaman spesies ada karena faktor alam, bukan karena diciptakan oleh Tuhan. Ia menuliskan dalam bukunya :
“Karena spesies diproduksi dan lenyap oleh penyebab-penyebab yang bertindak lambat dan masih tetap ada, dan bukan karena tindakan-tindakan ajaib penciptaan dan bencana...”[2]

Darwin menyebutkan orang yang memiliki keyakinan bahwa makhluk hidup diciptakan secara sempurna oleh Tuhan adalah orang yang bodoh. Ia mengatakan:
“...saya sama sekali tidak berharap untuk meyakinkan para naturalis berpengalaman yang pikirannya dipenuhi dengan sejumlah besar fakta-fakta yang selama bertahun-tahun kesemuanya dipandang dari sudut pandang yang berlawanan dengan sudut pandang saya. Begitu mudah kita menyembunyikan kebodohan dengan ungkapan-ungkapan seperti ‘rencana penciptaan’, ‘kesatuan desain’, dan seterusnya, dan berpikir kalau kita telah memberi penjelasan padahal kita hanya menjelaskan ulang suatu fakta.”[3]

Bantahan:
Keanekaragaman spesies tidak mungkin terjadi secara kebetulan yang diakibatkan oleh faktor alam semata, karena masing-masing spesies memiliki struktur dan sistem tubuh  yang begitu kompleks dan menakjubkan. Hewan atau tumbuhan yang paling sederhana sekalipun memiliki struktur dan sistem yang begitu kompleks yang sesuai untuk kehidupannya. Bahkan manusia sebagai makhluk yang paling cerdas sekalipun tidak mampu membuatnya. Bagaimana mungkin itu terjadi secara kebetulan? Tentu itu semua adalah hasil rancangan dan penciptaan Zat Yang Maha Cerdas, yaitu Tuhan.
           Menurut teori evolusi, setiap spesies makhluk hidup berasal dari pendahulunya. Spesies yang telah ada sebelumnya berubah menjadi spesies lain seiring dengan waktu dan semua spesies muncul menjadi ada dengan cara ini sedikit demi sedikit selama jutaan tahun. Jika hal ini memang terjadi, spesies peralihan yang sangat banyak haruslah pernah ada dan hidup selama masa perubahan yang panjang ini.[4] Namun, sampai saat ini tidak pernah ditemukan fosil peralihan ini. Darwin menuliskan:
“Hendaknya tidak dilupakan, bahwa dewasa ini, dengan spesimen sempurna untuk diteliti, dua bentuk jarang dapat dihubungkan dengan varietas pertengahan dan dengan demikian terbukti sebagai spesies yang sama, sampai banyak spesimen terkumpul dari banyak tempat; dan dalam hal ini spesies fosil ini jarang dapat dilakukan oleh para  ahli palaentologi....Hal ini hanya dapat dihasilkan oleh pakar geologi masa depan dengan penemuan sangat banyak gradasi penengahnya dalam keadaan fosil; dan keberhasilan seperti itu bagi saya adalah mustahil dicapai dengan derajat yang tinggi”[5].

        Teori evolusi tidak didukung oleh bukti ilmiah, Darwin sendiri mengakui ketidak lengkapan data geologinya:
“... tidak dapat diragukan bahwa catatan geologi, secara keseluruhan dipandang sangat tidak sempurna; tetapi bila kita batasi perhatian kita pada satu formasi, ini akan menjadi sangat sulit untuk memahami mengapa kita tidak menemukan varietas yang bertingkat-tingkat antara spesies-spesies serumpun  yang hidup pada masa permulaan dan penutupannya...”[6]

   Oleh karena itu, teori evolusi tidak bisa diterima secara ilmiah. Kalaupun dalam beberapa hal teori ini benar, justeru membuktikan kebenaran adanya Tuhan yang menciptakan proses kejadian tersebut.



[1] Charles Darwin. 2015. The Origin Of Spesies, Teori Evolusi Manusia. Indoliterasi:Yogyakarta. Hal:466

[2] Ibid, hal:469
[3] Ibid, hal: 464
[4] Harun Yahya. 2003.Terorisme Ritual Setan. Senayan Abadi Publishing: Jakarta, hal:139
[5] Charles Darwin. 2015. The Origin Of Spesies, Teori Evolusi Manusia. Indoliterasi:Yogyakarta, hal:285-286
[6] Ibid, hal:280